MTs ISLAMIYAH KEMBANGBAHU

Jl . Raya Kembangbahu No. 68

MADRASAH HEBAT BERMARTABAT

MENGINTEGRASIKAN NILAI MODERASI BERAGAMA MELALUI PROSES PEMBELAJARAN DI MADRASAH

Kamis, 14 September 2023 ~ Oleh admin ~ Dilihat 157 Kali

Suwati

Pengawas Madrasah Kabupaten Lamongan

 

 

Abstrak: Pendidikan moderasi beragama perlu diajarkan sejak dini. Hal ini perlu menjadi perhatian para praktisi pendidikan salah satunya guru pada Raudhatul Athfal (RA). Bagaimana para guru mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran pada anak usia dini. Oleh karena itu, penting untuk melihat bagaimana persepsi guru dan bagaimana strategi yang mereka gunakan untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran. Penulis menemukan fakta bahwa sebagian besar guru telah banyak membaca, mendengar, mengikuti pembinaan tentang Moderasi Beragama bahkan dalam setiap kegiatan pelatihan khususnya oleh Kemenag, materi Moderasi Beragam selalu menjadi materi yang wajib disampaikan, Persepsi guru terhadap Konsep Moderasi Beragama hanya sebagian kecil yang belum membacanya, sebagian besar belum menerapkannya dalam proses pembelajaran dan sebagian kecil sudah mulai mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran yang mereka ajarkan. Diharapkan dengan artikel ini bagi institusi/Lembaga bisa menjadi referensi untuk memberikan pemahaman yang lebih luas tentang moderasi beagama di lembaganya, dan bagi guru dapat menjadi motivasi untuk selalu belajar dan memahami moderasi beragama dan berusaha melakukan inovasi dan mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam proses pembelajaran.

 

Kata kunci: Moderasi beragama, proses pembelajaran, perspektif guru

 

  1. Pendahuluan

Implementasi moderasi beragama merupakan program prioritas nasional Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yang pada saat ini mendapat perhatian serius dari Kementerian Agama. Peran strategis ini terkmaktub dalam kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7272 Tahun 2019 Tentang Pedoman Implementasi Moderasi Beragama Pada Pendidikan Islam.

Pendidikan Moderasi Beragama memiliki peranan yang sangat penting dalam membekali peserta didik untuk membentengi diri dari hal-hal yang berhubungan dengan radikalisme, ekstremisme, dan ujaran kebencian.  KMA 347 Tahun 2022 Tentang  Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah diterbitkan untuk mendorong dan memberi aturan bagairnana berinovasi dalam implementasi kurikulum madrasah serta memberikan payung hukum dalam pengembangan kekhasan madrasah, pengembangan penguatan karakter, pendidikan anti korupsi dan pengembangan moderasi beragama pada madrasah.

Melalui KMA tersebut, madrasah diberikan ruang untuk berinovasi dalam penguatan dan peneguhan moderasi beragama dengan berbagai cara. Setiap guru wajib menanamkan nilai moderasi beragama kepada peserta didik, penananam nilai ini dapat diwujudkan pada bentuk pembiasaan, dan pemberdayaan dalam harian peserta didik, implementasi penanaman nilai tersebut tidak harus tercantum dalam kurikulum dan administarsi madrasah tetapi terealisasikan. 

Menerapkan pemikiran peserta didik yang sesuai dengan harapan bangsa dan sejalan dengan konsep moderasi beragama yang digagas oleh Kementerian Agama tidaklah mudah. Apalagi pada anak-anak usia dini di RA, ketika berhadapan dengan anak usia dini, guru harus menyampaikan pemahaman moderasi beragama dengan metode yang bisa diterima oleh anak usia dini. Bagi orang dewasa, pencapaian tugas perkembangan tidak akan mengalami masalah yang signifikan karena mereka sudah mampu berpikir secara konkret maupun abstrak.
Beda halnya dengan anak usia dini yang masih memerlukan peran orang dewasa (orang tua) untuk membantu mencapai tugas perkembangannya. Sejatinya pendidikan RA itu adalah bagaimana menciptakan suasana kelas menjadi happy, enjoy, dan menyenangkan. Jadi, konten-konten pembelajaran harus disenangi dan disukai oleh peserta didik dan tidak perlu terlalu teoritis apalagi menghapal definisi-definisi. Pendidikan anak usia dini berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara, adalah Pendidikan yang dilaksanakan dengan pegasuhan (memberi contoh teladan, memberi semangat dan mendorong anak untuk berkembang, Sujiono, 2009). Merdeka bermain adalah Merdeka belajar, belajar adalah bermain yang bermakna.

Dibutuhkan upaya seluruh civitas madrasah untuk mewujudkannya. Terlepas dari kebijakan para pengambil kebijakan, harapan besar itu juga ada di pundak para tenaga pengajar atau guru. Guru merupakan pendidik dan ilmuwan profesional dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kesempatan guru untuk membangun pikiran peserta didik sangat besar, karena setiap minggu mereka berhadapan langsung dengan peserta didik. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memahami konsep moderasi beragama. Dalam hal ini, penulis tertarik untuk melakukan pembahasan tentang Integrasi Nilai Moderasi Beragama melalui Proses Pembelajaran di madrasah khususnya RA yang bertujuan untuk menganalisis perspektif guru terhadap konsep moderasi beragama dalam proses pembelajaran.

  1. Pembahasan

2.1. Persepsi guru terhadap Konsep Moderasi Beragama

Beberapa fakta mengemukakan bahwa konsep moderasi beragama bukanlah isu baru. Umumnya, guru-guru RA telah mendapatkan konsep moderasi beragama dari sebuah buku yang diterbitkan oleh kementerian agama dan literatur lainnya. Ada juga yang memahami konsep moderasi beragama dari workshop, pelatihan, jurnal, surat kabar dan media sosial. Para guru pada dasarnya setuju dengan konsep moderasi beragama. Mereka memberikan pandangan bahwa konsep moderasi beragama merupakan solusi atas keadaan bangsa saat ini, yang memiliki banyak potensi konflik atas nama agama. Indonesia adalah bangsa majemuk dalam bentuk negara kesatuan yang di dalamnya terdiri dari banyak kelompok etnis, ras dan agama. Konsep moderasi beragama sudah sesuai dengan kondisi pluralistik masyarakat Indonesia[1]. Moderasi beragama juga diartikan sebagai konsep memahami agama secara seimbang. Selain itu, moderasi beragama juga dinilai mampu mencegah paham ekstrem dan radikal. Moderasi beragama adalah konsep di mana cara pandang kita tentang agama bersifat moderat, yaitu memahami dan mengamalkan ajaran agama tanpa bersikap ekstrem dan tidak berlebihan. Moderasi beragama dapat dijadikan wadah sekaligus upaya mencegah berbagai sikap dan praktik dari paham agama radikal, yang berpotensi menjadi gangguan terhadap kerukunan umat beragama. Namun demikian konsep moderasi beragama di Indonesia belum berjalan dengan baik karena masih ada beberapa diskriminasi yang mengatasnamakan agama. Ada perbedaan persepsi terhadap moderasi beragama, tentunya hal ini didasarkan pada pandangan dan realitas sosial yang terjadi di sekitarnya. Namun, hal ini tidak menjadi halangan untuk mewujudkan konsep moderasi beragama di Indonesia.

2.2. Integrasi Konsep Moderasi Beragama dalam Proses Pembelajaran

Berdasarkan data yang dihimpun melalui wawancara dan observasi di lembaga, beberapa guru di RA telah menerapkan berbagai metode atau cara untuk mengintegrasikan konsep moderasi beragama dalam proses pembelajaran. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat merangsang perkembangan anak adalah melalui penggunaan Alat Permainan Edukatif (APE) Moderasi Beragama. APE yang digunakan disini berbentuk permainan ular tangga, ada yang menggunakan banner dengan ukuran kecil, besar atau ubin yang ditempeli dengan gambar-gambar terkait moderasi beragama, ada kartu pertanyaan atau perintah-perintah yang akan dipraktekkan oleh anak-anak berdasar nomor yang muncul saat melempar dadu.  “Alat Permainan Edukatif (APE) ini merupakan alat-alat permainan yang dirancang dan dibuat untuk menjadi sumber belajar anak-anak usia dini agar mendapatkan pengalaman belajar. Pengalaman ini akan berguna untuk meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik/motorik, emosi, sosial, bahasa, kognitif dan moral. Alat Permainan Edukatif dapat mengoptimalkan perkembangan anak disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangannya” ungkap Sri Pujiati, S.Pd Kepala RA Perwanida V. Ada juga dengan cara dengan memberikan contoh atau penjelasan tentang pentingnya moderasi beragama sehingga tidak terjadi salah tafsir mengambil sikap dalam agama karena terkadang sikap ekstrim dan radikal dalam agama menyimpang jauh dari ajaran agama itu sendiri. Bahkan dapat menyebabkan konflik dalam agama. Secara umum, integrasi moderasi beragama harus didukung oleh semua pemangku kepentingan terkait, terutama dalam konteks masyarakat multikultural.

Menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis laboratorium moderasi beragama. Lembaga pendidikan sangat tepat menjadi laboratorium moderasi beragama. bahwa cara mengintegrasikan moderasi beragama dapat dimulai dengan instruksi sederhana di kelas, misalnya:  “Selalu menghubungkan materi pembelajaran yang berkaitan dengan moderasi beragama atau di akhir pembelajaran memberikan pemahaman tentang moderasi”. "Menerapkan/mengintegrasikan moderasi beragama dalam pembelajaran dengan menanamkan nilai-nilai agama Islam pada siswa dengan lebih pada menitipkan nilai-nilai Islam yaitu rahmatan lilalamin”. Nilai-nilai tersebut harus selalu diingatkan kepada siswa melalui proses pembelajaran”. Dalam buku Moderasi Beragama yang ditulis oleh Tim Balitbang Kementerian Agama RI, dijelaskan bahwa moderasi tidak hanya diajarkan oleh Islam, tetapi juga oleh agama-agama lain.[2]

Pada prinsipnya, sikap adil dan seimbang yang melekat pada prinsip moderasi beragama dapat membentuk seseorang untuk memiliki tiga karakter utama, yaitu kebijaksanaan, kesucian, dan keberanian. Dengan kata lain, bersikap moderat dalam beragama, selalu memilih jalan tengah, akan lebih mudah disadari jika seseorang memiliki pengetahuan agama yang cukup luas sehingga dapat bertindak bijak, menahan godaan agar dapat ikhlas tanpa terbebani, dan tidak egois dengan penafsiran sendiri tentang kebenaran sehingga berani mengakui penafsiran kebenaran orang lain. Dalam upaya menciptakan kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan beragama, diperlukan moderasi beragama, yaitu sikap keagamaan yang sedang atau sedang berada di tengah dan tidak berlebihan. Tidak mengklaim sebagai orang atau kelompok yang paling benar, tidak menggunakan legitimasi teologis yang ekstrem, tidak menggunakan kekerasan, netral, dan tidak memiliki afiliasi dengan kepentingan atau kekuatan politik tertentu. Sikap moderasi ini perlu disosialisasikan, dididik, dan dipupuk oleh panutan para pendidik agama.

  1. Rekomendasi

Setiap guru memiliki peran yang sangat penting dalam mempromosikan moderasi beragama dengan berbagai cara sesuai kondisi dan minat kelas. Namun yang terpenting adalah bagaimana pemahaman dan persepsi mereka terkait moderasi, jika guru sebagai ujung tombak penanaman nilai-nilai moderasi beragama dalam lingkup madrasah memiliki pemahaman yang komprehensif, maka proses transformasi nilai dapat dilakukan kapan saja dan dalam momentum apapun, termasuk dalam proses pembelajaran di kelas. Hal penting lainnya adalah sinergi antara seluruh komponen kelembagaan dalam mengimplementasikan nilai moderasi beragama.

  1. Kesimpulan

Pemahaman konsep moderasi beragama bukanlah hal baru di madrasah, karena diusung oleh Kementerian Agama sebagai salah satu program prioritas, informasi dan literatur mengenai hal ini telah banyak tersedia, baik dalam bentuk buku panduan moderasi beragama, jurnal, bahkan di media sosial. Oleh karena itu, para guru, pada dasarnya sudah memahami konsep moderasi beragama dan memahami esensinya. Seperti halnya wawancara dengan beberapa guru, dapat disimpulkan bahwa madrasah memegang peranan penting dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama dan pihak-pihak yang paling banyak berjuang dalam hal ini adalah guru-guru yang memiliki tanggung jawab mentransformasikan pengetahuan dan nilai di dalam maupun di luar kelas. Hal ini sangat tergantung pada kondisi dan minat siswa yang mereka ajar. Oleh karena itu, diperlukan kerangka umum dalam mengintegrasikan nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran. Selain itu, sinergi seluruh civitas madrasah juga akan sangat mendukung proses penanaman nilai moderasi beragama.

 

Referensi

[1] D. N. Ummah, E. A. Rohmatin, and B. Hasanah, “Pentingnya Moderasi Rahmatal lil Alamin Pendahuluan Pembahasan Tidak Terlalu Ekstrim Ke Kanan dan Ke Kiri,” 2018.

[2]  T. Penyusun, Moderasi Beragama, vol. 53, no. 9. 2013.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. A. FARIKHIN, S.Pd

Bismillahirrohmanirrohim Assalamu'alaikum War. Wab. Alhamdulillahirobbil alamin... puji syukur kami sampaikan ke hadirat Allah SWT. yang telah memberikan kenikmatan kepada kita…

Selengkapnya